SOCIETEIT DE HARMONIE THROUGH THE EYES OF HER LAST GUEST

ON MISSION
“Harmonie…Harmonie…”, the bus attendant offers the road route.
Present day, people perhaps don’t care about the historical background of the name of “Harmonie” building.Below, my friend Alexandra will tell you when she visited Harmonie before the building was pulled down.

I would to express my appreciation to Alexandra who visited this building 23 years ago and spent more time to remember and remind it on the subject of writing her experience to all audience of “MY ODYSSEY”…

THE LETTER
Part of this letter was edited and adjusted in terms of architectural description without changing the meaning.

Dear Mahandis,
Regarding your request for some illustration about Societeit de Harmonie, it’s not much to tell, it was a long… long time ago in June/July 1985, when I was still a senior high school student.

I saw her last standing in sturdy façade and still beautiful from the outside…however she was already on the verge of death.

I walked in Jl.Majapahit, it was western side of this building. I viewed the building in ivory white, garnished by the pillars, and a magnify title of “HARMONIE” that bracketed by triangle [like in neo-palladian style]. There were windows galleries. The windows were designed in classical-arc style and wooden bar ventilation [krepyak]. Sadly, most of these wooden windows have gone, even the western entrance wooden door in to the gallery was moved out.

The building has a unique trapezoid roof blended by tropical roof style as indische woonhuizen. The roof edge was surrounded by border.

If we entered from principal entrance, opposite the canal, there were three steps of marble staircases toward the three Doric columns. The color of staircase is grey-greenish Whereas the western side, there is an open gallery without staircase. The distance between the base line and the floor was about 60 cm.

I entered from Jl. Majapahit, because the part of rear building has been pulled down. Many ruins cruelly scattered inside the building and the garden.

Entirely the building, I found unfilled rooms, empty. The chandeliers have gone. Pieces of wall have been pulled down. Apparently, I did not found any Corinthian columns.Only pilaster with capital Corinthian were available.

The marble tiles were still shinning in grandeur, and let me imagined the ambience when a chamber orchestra played Strauss’ waltz suite such as Radetzky March and Emperor Waltz, accompanied the dancer…The ballroom was so cozy and cool inside.

I felt so sorry to myself. If I visited “HARMONIE” a year before, I would see her fully grandeur mansion. And that day I visited to express my condolence to her, touch her and say goodbye. I felt empty inside me. That’s the last time I ever saw her last standing.

Regards,
Alexandra Nirma Mahartiani

Written by Alexandra Nirma Mahartiani
Edited by Mahandis Yoanata Th.

INTERIOR
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Source: Scott Merrillees, Batavia in 19th Century Photographs.

MAP & AERIAL PHOTOGRAPH
Map
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Source: Courtesy of Hatmanto Sri Nugroho [Batavia Military Guide Map ,Published by Surveyor Department – Allied Forced Netherlands East Indies (AFNEI), Dec – 1945]

Aerial Photograph
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Source: KITLV

A FAR BEFORE
In the end of 18th century many drink shops or bar built in the edge of Ciliwung River [the great river of Batavia]. The Batavian became more cruelly and uncivilized, they usually drunk and brawl.

In 1776 Reinier de Klerk observed that the government should build the more civilized club in society. The first society club in Batavia, Societeit de Harmonie established in Buiten Niewpoort Straat, Jl.Pintu Besar Selatan now. It was outside the city wall in the north.

NEW CITY TO THE SOUTH BY DEANDELS
When the city of Batavia was getting unhealthy, Governor General Herman Willem Daendels moved the city to Weltevreden in 1808-11. He had planned to build government building and a new clubhouse in the corner of Rijswijkstraat and Rijswijk [now Jl.Majapahit and Jl.Veteran].

The new clubhouse needed an amount of money to financing this building. For that reason Daendels inquired the Board of Treasury to support it. Not only that, he also inquired all civil servants, military or civil must be a member of this new clubhouse.

The development of this clubhouse was retarding after Daendels left Batavia because financial factor and military invasion of British Army into Batavia for eliminating the influence of France.

THE ESTABLISHMENT OF NEW SOCIETEIT DE HARMONIE
.
The establishment of Societeit de Harmonie was continued when British occupied the Netherlands Indies by Lieutenant General Raffles in 1812. By late 1814, construction had been completed. Raffles opened this grandeur club officially in 18th of January 1815. That date was chosen to coincide with the official birthday of Queen Charlotte, wife of the British King George III.
There was interesting legend, Raffles threw the front door keys into the canal in front of the clubhouse, and declared that the doors would never close.

Inside the grandeur building, there were chandelier, big mirror, Corinthian columns, bronze statues, and marble tile. Parties, dancing, orchestra were celebrated in this club. So people called it Jenewerpaleis due to many gin or other wine stored in this building.

The 250th anniversary of Batavia was celebrated in Societeit de Harmonie in 29th of May 1869.

SOCIETEIT DE HARMONIE IN HER LAST STANDING
From the 1970’s to early 1980’s, Harmonie was purposed by office of Indonesian National Importer Group.

In early 1980’s before pulled down, there were some discourse about this building: a plan would be an exclusive restaurant and night club, but the government refused this planning. The government said that private enterprises can not run this building to be business purposes.

The Societeit de Harmonie building was demolished in March 1985 to facilitate the widening of Jl.Majapahit. Since that year, we just imagined the grandeur building ever had in Jakarta only from old photographs or movie.

Advertisements

72 comments

  1. masoye said: Pilar corinthian itu ada Mas,… difoto 2, disisi kiri foto kita bisa melihat dari celah2 ‘pintu lengkungan2’, tampak 1 tiang itu. Menurut saya, ruangan itu adalah (mirip) seperti difoto Mas Mahandis diatas (interior). Jadi ruang bilyard ini berada di sisi kanan foto Mas Mahandis.

    Owww hiya2 mas!Mas Teguh sangat rinci sekali melihatnya…ato ini memang yang foto Mas Teguh sendiri kali ya hehehehe…Ya, ruang bilyard ini berada di gedung yang diresmikan th 1815, Harmonie. Saya bisa membayangkan di dalam gedung tersebut setidaknya terdapat 3 ruangan besar: Ruang utama/ballroon [dihiasi dengan pilar2 corinthian dan cornice bergaya baroque] yang diapit oleh 2 ruang di sisi kiri dan kanannya. Salah satunya adalah ruangan bilyard.Mungkin seperti itu gambarannya.Seperti, kata Alexandra bahwa dia melihat ke dalam dari jendela dan masih ada ruangan/gallery…nah mungkin yang dimaksud Alexandra adalah ruangan yang mengapit ruang utama/ballroom tadi.

  2. mahandisyoanata said: Saya bisa membayangkan di dalam gedung tersebut setidaknya terdapat 3 ruangan besar: Ruang utama/ballroon [dihiasi dengan pilar2 corinthian dan cornice bergaya baroque] yang diapit oleh 2 ruang di sisi kiri dan kanannya. Salah satunya adalah ruangan bilyard.

    whalahh…jadi yg sekarang reinkarnasi? *hiks*Akur dengan gambaran-nya Mas,… bila melihat arah cahaya dari jendela2, saya berasumsi bahwa ruang bilyar ini berada disisi barat ato sejajar dengan Rijswijkstraat (Jl Majapahit). Dan dijepret pada waktu siang menjelang sore. Sebab, bila ruang ini berada disisi timur, cahaya matahari pagi tak akan bisa masuk karena terhalang taman, pohon ato kanopi..

  3. masoye said: Akur dengan gambaran-nya Mas,… bila melihat arah cahaya dari jendela2, saya berasumsi bahwa ruang bilyar ini berada disisi barat ato sejajar dengan Rijswijkstraat (Jl Majapahit). Dan dijepret pada waktu siang menjelang sore. Sebab, bila ruang ini berada disisi timur, cahaya matahari pagi tak akan bisa masuk karena terhalang taman, pohon ato kanopi..

    Saya juga berpendapat demikian Mas Teguh

  4. It’s a great lost for this country…

  5. Great history, great lost, great irresponsible…Thanks Jimmy…

  6. thx a lot sdh sharing info & dokumentasi yg sangat berharga ini..

  7. nicestchloe said: thx a lot sdh sharing info

    Terima kasih juga sudah berkunjung mbak Juliani 🙂

  8. Saya mungkin termasuk yang “beruntung” masih mengalami pesta dansa di Hotel Duta Indonesia di permulaan tahun 1960, dan juga beberapa kali malam minggu berdansa di Harmonie. Yangbiasa dipakai untuk dansa adalah halaman belakang, dibawah pohon yang rindang, sedangkan ruangan dalam (yang dulu dipakai ruang bilyard) dibiarkan kosong, karena memang lebih panas (maklum dulu belum ada AC)

  9. peppermint19 said: Saya mungkin termasuk yang “beruntung” masih mengalami pesta dansa di Hotel Duta Indonesia di permulaan tahun 1960, dan juga beberapa kali malam minggu berdansa di Harmonie. Yangbiasa dipakai untuk dansa adalah halaman belakang, dibawah pohon yang rindang, sedangkan ruangan dalam (yang dulu dipakai ruang bilyard) dibiarkan kosong, karena memang lebih panas (maklum dulu belum ada AC)

    Wah Oma Anna salah satu “pelaku sejarah” tentang Harmonie juga nih…nice. Apakah Oma sempat foto2 juga di dalamnya? Kalau ada boleh di-share di sini ya hehehe…Thx.

  10. peppermint19 said: Yangbiasa dipakai untuk dansa adalah halaman belakang, dibawah pohon yang rindang

    Di sisi sebelah timur kah Oma?Kalau kita lihat foto2 di atas, halaman sebelah timur memang banyak pohon rindang dan sepertinya nyaman duduk di kursi2 bawah pohon ya…

  11. weleh, kalau mengenai sebelah timur atau baratnya, saya kurang begitu paham. yang pasti yang banyak pintu itu menghadap ke jl. abdul muis (?) seberang Oger Freres (Singer sekarang) , sedangkan yang ada pohon rindangnya itu dibelakangnya, jadi masuknya dari jalan veteran yang dekat kali. teras belakang dipakai untuk tempat band dan berdansa. sayangnya pada waktu itu saya belum hobby foto2, masih muda (usia 19/20 tahun)

  12. jadi ingat kata pramoedya ananta toer, indonesia itu kurang di dokumentasi. Saya masih agak kesulitan kalau ‘mengulik’ sejarah kawasan seperti di harmoni misalnya

  13. peppermint19 said: weleh, kalau mengenai sebelah timur atau baratnya, saya kurang begitu paham. yang pasti yang banyak pintu itu menghadap ke jl. abdul muis (?) seberang Oger Freres (Singer sekarang)

    Ya memang banyak pintu dan jendela berkrepyak yang mengahadap jalan Majapahit [jalan raya di antara Harmonie dan Oger Freres]. Kemungkinan, ruangan bilyard itu juga mengahadap ke Jl.Majapahit ya.Wah Oma masih muda sekali waktu itu yaa heehhe…

  14. bidadarikesunyian said: jadi ingat kata pramoedya ananta toer, indonesia itu kurang di dokumentasi. Saya masih agak kesulitan kalau ‘mengulik’ sejarah kawasan seperti di harmoni misalnya

    Pram benar, itu karena orang indonesia malas mencatat/menulis. Kenbanyakan budaya nusantara diteruskan ke generasi berikutnya melalui penuturan [budaya lisan]. Yah, jadinya saat ada “noise” diantara si pembawa pesan dan si penerima pesan bisa2 pesan tidak utuh lagi/kelebihan heheheh.Discourse di atas [beberapa disampaikan oleh Mas Teguh dan Pak hatmanto] mengacu pada sumber dari luar:1. Foto2 dari Woodbury & Page th 1880 koleksi Scott Merrillees, Batavia in 19th Century Photographs.2. Batavia Military Guide Map ,Published by Surveyor Department – Allied Forced dari Netherlands East Indies (AFNEI), Dec – 1945.3. Foto2 dari Woodbury & Page th 1880 koleksi KITLV LEIDEN..4. Foto dari C.L.Temminck Groll th 1972 dalam Atlas of Mutual Heritage5. Foto Udara, kemungkinan oleh MLD, koleksi KITLV.6. Ilustrasi bangunan th 1814 oleh W.D. Burgemeestre, koleksi Keluarga Raffles, BRITISH LIBRARY.7. Foto2 dari Erkelens tertanggal 5 Maret 1985, koleksi KITLV.Begitu mbak bidadarikesunyian…

  15. Karena masih muda itu makanya belum terbesit pemikiran untuk berfoto2 karena dianggap gedung itu akan tetap berada disana. Sedangkan orang2 asing yang membuat foto2 itu karena ada hubungannya dengan arsitektur dan sejarah dan juga karena ada alat potretnya yang tidak banyak dimiliki orang Indonesia, tidak seperti sekarang dimana anak2 muda pandai sekali mengambil foto2 and you are one of them hehe

  16. peppermint19 said: Karena masih muda itu makanya belum terbesit pemikiran untuk berfoto2 karena dianggap gedung itu akan tetap berada disana. Sedangkan orang2 asing yang membuat foto2 itu karena ada hubungannya dengan arsitektur dan sejarah dan juga karena ada alat potretnya yang tidak banyak dimiliki orang Indonesia

    Hehe tapi Oma lumayan gaul juga yah secara itu tahun 1960an hang-out sudah di Societeit de Harmonie 🙂 Kalo anak2 sekarang levelnya mungkin seperti di Kemang ya hehehe… Saya paham keadaan 1960an, foto-memfoto dan jepret-menjepret waktu itu masih tergolong hobi yg luxurious di sini.

  17. ah…sayang sekali gedung ini sudah dibongkar ya…padahal saya pernah lihat langsung gedung ini doeloe….

  18. mybandoeng said: ah…sayang sekali gedung ini sudah dibongkar ya…padahal saya pernah lihat langsung gedung ini doeloe….

    Nambah satu lagi nih “eye witness”-nya… Pernah masuk juga ke dalam?Thanks Pak Rhoedy!

  19. Sayangnya saya tidak pernah masuk ke dalam…hiks..cuma lewat saja di depannya…

  20. mybandoeng said: Sayangnya saya tidak pernah masuk ke dalam…hiks..cuma lewat saja di depannya…

    Masih beruntung bisa lihat kondisi terakhirnya pak. generasi yang sekarang cuman tau nama lokasi perempatan: “Harmonie” tanpa tau kenapa sih disebut begitu…hehehe.

  21. Pak Mahandi… saya juga selalu meratap, setiap melalui perempatan itu. Dan ada perasaan marah, setiap melewati gedung baru (setneg), yang berdiri di bekas gedung Harmoni itu… Terima kasih atas data-data sejarah berikut foto-foto, yang kuanggap sebagai obat rindu.. 🙂

  22. heyderaffan said: Pak Mahandi… saya juga selalu meratap, setiap melalui perempatan itu. Dan ada perasaan marah, setiap melewati gedung baru (setneg), yang berdiri di bekas gedung Harmoni itu… Terima kasih atas data-data sejarah berikut foto-foto, yang kuanggap sebagai obat rindu.. 🙂

    Ya, Pak Affan tidak sendiri. telah banyak orang yang meratap di perempatan itu Pak…Semoga Jakarta bukan negeri dongeng yah…Foto2 di atas kontribusi dari kolega2 saya.Thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: