THE LAST COUNTRY HOUSE BUILT IN 18TH CENTURY IN TANGERANG WILL BE COMPLETELY PULLED DOWN

ON MISSION
Save our heritage or perished, it is not only bad news, but an attention and statement that delivered to the government [especially Tangerang Regional Government], communities who concern about the preservation of heritage buildings, and all people who read our journey.

Based on the picture of old buildings surrounding Jakarta published by National University Singapore, I and Dharmawan [Editor in Chief of IDEA Magazine] cruised the former rubber plantation house in Tangerang on Sunday, 23rd November 2008. It is the nearly forgotten country house in Tangerang, suburb of Jakarta. Located in the village of Karawaci Baru, City of Tangerang, near Cisadane River.

This building was formerly owned by biggest Chinese landlord for rubber plantation. Now, his descendants owned this mansion. However, they don’t live in their house ancestor.

Unfortunately, this building was not included the Heuken’s Historical Sites of Jakarta in the chapter of country house and former residences of big estate owner. Really neglected building!

THE ARCHITECTURE
This country house probably built in the end of 18th century. It has two buildings remain in the area of 2.5 hectare of land:

The principal building was built in Chinese architecture (three parts of house and accompanied by two pavilions in each wings, has typical designed as Chandranaya building). It front façade is opposite the Cisadane River. Now, part of this building was destroyed.

Next to be pulled down, the secondary building. It adopted the architectural style of “Indische Stijl” (1790 – 1820), garnished by Tuscan columns. Good example of country houses for this period are House of Japan in Palmerah and House of Citrap. Both of these country houses have been demolished.

It means the country house of rubber plantation in Tangerang is the only last stand for period of “Indische Stijl”. Whereas the front façade of secondary building is opposite the street to Cikokol.

SAVE OUR HERITAGE, WE NEED YOUR ATTENTION!
Since September 2008, the present day owner has been pulling down of the primary building. What a pity, beautiful Chinese mansion was destroyed by business interests, now the destruction is still on progress. It’s threatening the secondary building.

Advertisements

29 comments

  1. Because I failed to display the photo of secondary building in my journal above, here the picture…Next to be pulled down, the secondary building above. It adopted the architectural style of “Indische Stijl” (1790 – 1820), garnished by Tuscan columns. Located behind the primary building, all owned by Chinese landlord of rubber plantation.

  2. sayang sekali ya, sekarang setelah merantau aku baru sadar, kalau di eropa, orang2 malah berusaha membangun bangunan kuno sesuai mungkin dg aslinya, kl di negara kita malah diambrukin total……!!

  3. wah, lha kok eman-eman tenan.coba aku punya duwit banyak, tak beli, tak bagusin, tak … apain yaaaa …. tak jadiin rumah peristirahatan dan/atau gedung pertemuan…. sayang sekaleeeeee……………..

  4. dev38 said: sayang sekali ya, sekarang setelah merantau aku baru sadar, kalau di eropa, orang2 malah berusaha membangun bangunan kuno sesuai mungkin dg aslinya, kl di negara kita malah diambrukin total……!!

    Masih ada waktu untuk menyelamatkan bangunan kedua ini… Tapi saya tidak tahu harus mengadu ke mana :”(

  5. mahandisyoanata said: Masih ada waktu untuk menyelamatkan bangunan kedua ini… Tapi saya tidak tahu harus mengadu ke mana :”(

    mungkin harus mengadu ke dept apa ya ,itu lho yg ngurusin benda2 purbakala……?

  6. rumah ini impian gue banget, sayang sekali yah…

  7. nuragni29 said: wah, lha kok eman-eman tenan.coba aku punya duwit banyak, tak beli, tak bagusin, tak … apain yaaaa …. tak jadiin rumah peristirahatan dan/atau gedung pertemuan…. sayang sekaleeeeee……………..

    Wah sip mam, saya dukung deh kalo mau bikin villa atau rumah pijat di sini hehe.. bangunan keren loh:Sisi depan menghadap Cisadane, bangunan depan bergaya Cina dengan tiga bangunan utama dan 2 bangunan paviliun (namun paviliun sudah dibongkar, tinggal satu saja sisanya). Trus bangunan belakang (secondary building) bergaya indische dengan 14 pilar Tuscan!

  8. charliesalseros said: rumah ini impian gue banget, sayang sekali yah…

    Silakan bermimpi untuk selamanya, mungkin akhir tahun sudah musnah… 😉

  9. mahandisyoanata said: villa atau rumah pijat

    kok rumah pijat to? spa?tapi gak punya uang yang cukup untuk beli …. jadi ya berkhayal aja ya Yoan – andaikan ……..

  10. in Indonesian speech…..”(……..semua kata makian…terucap disini!!!!!!!!!), Lama – lama juga Istana Negara juga dibongkar diganti ama bangunan baru….yang kualitas pengerjaannya setara dengan warung dadakan di Pantura saat musim mudik lebaran…..

  11. rumah dgn tipologi arsitektur seperti ini dulu juga ada di daerah cililitan..

  12. weebisons said: rumah dgn tipologi arsitektur seperti ini dulu juga ada di daerah cililitan..

    Ya, di Cililitan besar. namun sepertinya gaya Cililitan yang berlantai dua lebih ngetop duluan dibandingkan gaya rumah Indische ini Mas.

  13. nuragni29 said: kok rumah pijat to? spa?

    Ya rumah pijat = spa, tapi bukan panti pijat lho hehehe…Suasana seperti di losari coffee plantation ya mam… 🙂

  14. andywg said: …….semua kata makian…terucap disini!!!!!!!!!

    Silakan mengamuk bos!Nanti saya upload edisi foto2 di kedua rumah milik landowner beken itu….

  15. ya ampun. bangunan itu mau diancurin? aku sering lewatin tu. sayang bgt.

  16. detiyunita said: ya ampun. bangunan itu mau diancurin? aku sering lewatin tu. sayang bgt.

    Wah nitip pantauan laporan pandangan mata day by day Mbak… hehehe

  17. apakah kita akan berhenti dengan penyesalan (“ya ampun”), kekaguman(“waduh bagus ya”), dan menjadi saksi pembongkaran satu demi satu bangunan tua ini, kawan?

  18. undangan: mari pemberi komentar blog ini ketemuan. bikin aksi untuk MENYELAMATKAN gedung. berani?

  19. Gimana kabarnya ttg rumah tauke karet ini,mas?Udah dibeli Pemda Tangerang kah?Thanks

  20. kartupos said: Gimana kabarnya ttg rumah tauke karet ini,mas?Udah dibeli Pemda Tangerang kah?Thanks

    Perkembangan terakhir, saat ini dimiliki oleh seseorang (private) dan sedang dilakukan pendokumentasian arsitektur oleh arsitek yang ditunjuk oleh pemilik, yaitu Kantor Arsitek Budi Lim Associates. Seperti dalam pemberitaan sebelumnya, bahwa pemilik tanah dan rumah warisan Oey Djie San ini adalah terpisah, bukan dari pihak yang sama. Kami tidak berhasil menemukan pemilik tanahnya.Rencananya, bangunan akan direlokasi kembali ke tempat lain (dismantling).Pemerintah kota sampai saat ini tidak peduli dengan nasib rumah Kapitan Oey Djie San ini.================================================Siaran Pers Perkembangan Rumah Eks Perkebunan Karet di KarawaciDengan ini disampaikan perkembangan sehubungan dengan upaya Warga Peduli Bangunan Tua (Walibatu) untuk mempertahankan Rumah Eks Perkebunan Karet di Karawaci sebagai situs bersejarah:• Upaya meminta perhatian pemerintah kota (pemkot) Tangerang, yang dilakukan dengan mengirimkan surat ke Bapak Walikota Tangerang, tidak mendapatkan respon yang memadai. • Sejumlah media cetak dan elektronik telah meminta perhatian berbagai kalangan supaya dilakukan penyelamatan terhadap Rumah Eks Perkebunan Karet di Karawaci, Tangerang (daftar judul dan media terlampir).• Audiensi dengan pemilik rumah dan lahan untuk mencari kemungkinan penyelamatan Rumah Eks Perkebunan Karet di Karawaci, Tangerang, tidak dapat dilakukan. Dari upaya komunikasi melalui kontak dengan pihak penghubung, diperoleh keterangan bahwa pemilik rumah/lahan telah menjual lahan kepada pihak lain dan tidak mungkin diadakan pertemuan untuk membicarakan penjualan kembali. • Di tengah pembongkaran bagian-bagian bangunan rumah bergaya Cina (sisi yang menghadap kali Cisadane), diperoleh kabar adanya pihak yang hendak menyelamatkan sisa-sisa bangunan tersebut. Walibatu bertemu dengan pihak ini dan mendapatkan keterangan bahwa pihak ini bermaksud menyelamatkan sisa-sisa bangunan tersebut untuk kemudian suatu hari kelak didirikan kembali di tempat yang lain. • Upaya Walibatu untuk mempertahankan bangunan tersebut pada situs awalnya tidak bisa dilanjutkan. Pertama, didapat kabar, bahwa tanah sudah dibeli oleh pihak kedua yang telah melakukan pembayaran uang muka. Kedua, deadline untuk pembongkaran yang diberikan oleh pemilik lahan/rumah kepada pihak pembeli bangunan hanya sekitar 2 (dua) bulan. Ketiga, diperlukan biaya yang begitu besar untuk – seandainya – dilakukan pembelian lahan. • Sebagai bentuk private initiative, pihak pembeli bangunan eks Rumah Eks Perkebunan Karet di Karawaci, Tangerang telah memilih pihak yang dinilai secara profesional menguasai proses dismantling (pembongkaran, pelepasan), sehingga proses tersebut akan didahului oleh survei dan pemetaan serta pendokumentasian. Pihak pembeli bangunan berniat untuk mengumpulkan kembali bagian atau elemen-elemen rumah yang sebelumnya telah dijual kepada pihak lain, untuk dikumpulkan kembali. Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Kiranya diperlukan usaha yang terus menerus untuk penyelamatan banguan tua & bersejarah. Hal itu dapat dilakukan dengan membuat satu unit percontohan, di mana bangunan tua & bersejarah dapat tetap terpelihara karena mengikutsertakan ekosistem sosial dan ekonomi. Dengan mengikutsertakan aspek sosial & ekonomi, maka banguan tua & bersejarah tidak semata-mata hanya dikaitkan dengan aspek kultural dan kesejarahan, yang biasanya dipandang tidak menghasilkan nilai tambah sosial & ekonomi – suatu hal yang kerap menjadi alasan pembongkaran bangunan tua & bersejarah.Tentang WalibatuWALIBATU adalah forum cair dimana terhimpun warga yang menaruh kepedulian terhadap pelestarian bangunan tua, dengan partisipan dari beragam profesi dan usia. Alamat Email: walibatu@yahoo.com.Mailing list: walibatu@yahoogroups.comDirilis pada 24 Desember 2008Kliping Berita:1. Gedung Tua di Tangerang Dibongkar, Ong, Kompas, 4 Desember 2008.2. Unprotected Chinese, Indisch Buildings Razed in Tangerang, Mariani Dewi, The Jakarta Post, 7 Desember 20083. Sebelum Tinggal Puing, Silvia Galikino, Jurnal Nasional, 7 Desember 20084. Tangerang Belum Punya Perda Cagar Budaya, Pembongkaran Rumah ‘Si Pitung’ di Karawaci, Cel, Warta Kota, 6 Desember 2008.5. Rumah Tuan Tanah yang Hampir Punah, David Christian, Corysha FP Akmalsyah, Media Indonesia, 5 Desember 2008.6. Public Want Houses Saved, Govt Shrugs, Mariani Dewi dan Multa Fidrus, The Jakarta Post, 10 Desember 2008.7. Daerah Harus Punya Penilik Kebudayaan, Sidik Pramono, Media Indoensia, 9 Desember 2008.8. Stop Pembongkaran! Rumah Tua Perkebunan Karet Karawaci, Pra, Warta Kota, 11 Desember 2008.9. Petition Signed to Save Heritage Buildings, Mariani Dewi, The Jakarta Post, 11 Desember 2008.10. Rumah Perkebunan Karet Terancam Dibongkar, Fokus Pagi Indosiar, 17 Desember 2008.11. Petisi untuk Selamatkan Jejak Sejarah, Media Indonesia, Corysha FP Akmalsyah, 13 Desember 2008.12. Ketika Waktu dan Pilihan Menipis, Silvia Galikano, Jurnal Nasional,14 Desember 2008.13. Berita Rumah Karawaci, Radio CVC, sebuah radio Australia berbahasa Indonesia (www.cvc.tv) yang siarannya dapat didengar melalui streaming internet di http://www.cvc.tv, radio gelombang SW, dan dipancarkan oleh 20 radio dari Aceh sampai Papua, 10 Desember 2008.14. Periskop Metro TV, 17 Desember 2008.

  21. mahandisyoanata said: Rencananya, bangunan akan direlokasi kembali ke tempat lain (dismantling).Pemerintah kota sampai saat ini tidak peduli dengan nasib rumah Kapitan Oey Djie San ini.

    This breaks my heart…..

  22. salam kenal.wah senang sekali bacanya komplit juga.sejarh kita.makasih telah sharing.

  23. duh sayang deh kalau di pugar,mestinya di lestarikan.

  24. Mau kasih tahu sekarang ada jakarta spa blog di http://www.jakarta-spa.com. Blog yang membicarakan spa, massage, relaxation, traditional treatments and its places in Indonesia

  25. hi, i am following this with a very keen interest. i am in the midst of finding my great grandfather who’s name is Kapitan Oey Keng Hin. I am not sure if my great grandfather is related to this guy, Kapitan Oey Djie San. if anyone had info, please shed some light on this thanks!

    1. I ask To you cywong ? Are you sure, you Capitan great grandfather who’s name is oey keng hin ?? May I meet you ? I can take you tracking he have the greatland in Tangerang. Because my Father know it him.

      1. Francisca Emily M.K Widyati · ·

        KAPITAN OEY KENG HIN married with Ong Hap Nio, in this married they have 5 children..3 boys and 2 girls…the youngest girl is my mother..her name is Oey Emma Nio..and now Oey Emma Nio still a live and her condition between concious and unconcious at Gading Pluit Hospital at Kelapa Gading.. Grand Sons of Kapitan Oey Keng Hin has Oey Kim Liong (Ronny Wiramtu) staying in Kayu Putih Area, and also anothers live in Canada and Jakarta….my name is Francisca Emily…I am Grand Daughter of Kapitan Oey Keng Hin

      2. Francisca Emily M.K Widyati · ·

        For additional information…my Grand Father Kapitan Oey Keng Hin had been graved in Kebon Nanas area…now his grave is gone…we do not know where is he now..

  26. On that year Melaka & Penang (in our nearest neighbouring country) have won World Heritage Awards.We did on the contrary.It would be a great assets for tourism though. Be it come a city museum. A great pity.Bapak-bapak, pegimana hasil studi bandingnyah??? Bawa oleh2 banyak dong..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: